sakabaktihusada-tugas-hut-RI-balaikota

PENGERTIAN

Pertolongan pertama dalah pemberian segera kepada penderita sakit atau cidera yang memerlukan penanganan medis

TUJUAN

  1. Menyelamatkan jiwa atau mencegah maut atau mempertahankan hidup
  2. Mencegah cacat
  3. Member rasanyaman dan menunjang penyembuhan

SEORANG PENOLONG PERTAMA MEMPUNYAI KEWAJIBAN SEBAGAI BERIKUT:

 

  • Menjaga keselamatan diri, anggota tim, penderita dan orang di sekitarnya
  • Menjangkau penderita
  • Mengenali dan mengatasi masalah yang mengancam nyawa
  • Meminta bantuan / rujukan
  • Memberikan pertolongan dengan cepat dan tepat sesuai keadaan penderita
  • Membantu penolong yang lain
  • Menjaga kerahasiaan medis penderita
  • Melakukan komunikasi dengan petugas lain yang terlibat
  • Mempersiapkan penderita untuk ditransportasi / dirujuk ke fasilitas kesehatan

 

KUALIFIKASI PENOLONG PERTAMA :

  • Jujur dan bertanggungjawab
  • Profesional
  • Mempunyai kematangan emosi
  • Mampu bersosialisasi
  • Kemampuan nyata terukur sesuai sertifikasi
  • Mempunyai kondisi fisik baik
  • Mempunyai rasa bangga

 

ALAT PERLINDUNGAN DIRI (APD)

sebagai pelaku PP, kita juga harus mengutamakan keselamatan diri sendiri. Jadi, kita memerlukan Alat Perlindungan Diri (APD).

APD itu adalah alat yang digunakan agar kita tidak tertular penyakit. Alat

perlindungan diri tidak perlu mahal.

Contohnya :

  • Sarung tangan lateks
  • Masker penolong
  • Kacamata pelindung
  • Baju pelindung
  • Helm pelindung
  • Masker penolong dll

 

PERALATAN PERTOLONGAN PERTAMA

  • Kasa Steril
  • Pembalut gulung / perban
  • Pembalut perekat / plester
  • Gunting pembalut
  • Bidai – Alkohol 70%
  • Pinset – Kapas
  • Senter
  • Selimut
  • Dll

 

HAL YANG HARUS KITA LAKUKAN KETIKA MENEMUKAN KORBAN

  1. Penilaian keadaan

Pada saat sampai di lokasi kejadian hal yang pertama kali harus dilakukan adalah menilai keadaan sekitar. Apakah aman atau tidak bagi dirinya. Jika ragu lebih baik minta bantuan kepada orang dewasa. Dan Ingat, keselamatan penolong nomor satu.

 

Secara umum tugas seorang penolong saat tiba di lokasi adalah:

  • Memastikan keselamatan penolong, penderita, dan orang orang disekitar lokasi kejadian
  • Penolong harus memperkenalkan diri, bila memungkinkan
  • Menentukan keadaan umum kejadian ( mekanisme cedera )
  • Mengenali dan mengatasi gangguan cedera yang mengancam nyawa
  • Stabilkan penderita dan meneruskan pemantauan
  • Minta bantuan bila diperlukan

 

Dalam melakukan tugas sebagai penolong, juga diperlukan berbagai informasi

untuk menunjang penilaian. Informasi yang kita butuhkan dapat kita peroleh dari:

  • Kejadian itu sendiri
  • Penderita (bila sadar)
  • Keluarga (Saksi)
  • Mekanisme kejadian
  • Perubahan bentuk yang nyata ( cedera yang jelas )
  • Gejala atau tanda khas suatu cedera atau penyakit.

 

  1. Penilaian dini

Pada saat menghadapi penderita, kita perlu menentukan kondisi penderita

secara umum. Hal-hal yang ditentukan yaitu :

a. Kesan umum

ini digunakan untuk menentukan apakah penderita merupakan

kasus trauma atau kasus medis. Perbedaannya, kasus trauma adalah kasus yang disebabkan oleh suatu ruda-paksa, mempunyai tanda-tanda yang jelas dan terlihat

atau teraba. Misalnya luka terbuka, memar, patah tulang dan lain sebagainya. Kasus Medis adalah kasus yang diderita seseorang tanpa ada riwayat ruda paksa.

Contohnya sesak napas, pingsan

 

b. Memeriksa kesadaran atau respon

Ada empat tingkatan kesadaran penderita yang biasa di singkat dengan “A S N T”:,

  • Awas
  • Suara
  • Nyeri
  • Tidak Respon

c. Memastikan jalan napas terbuka dengan baik

Jika penderita tidak ada respon gunakan teknik angkat dagu dan tekan dahi.

 

d. Untuk menilai pernapasan

Setelah jalan napas berjalan dengan baik maka penolong harus menilai pernapasan penderita dengan cara “LDR”:

  • Lihat
  • Dengar
  • Rasakan

 

e.Menilai denyut nadi

Sebelum melakukannya, kita lihat dulu kondisi korban apakah sadar atau tidak. Jika sadar, cara yang digunakan adalah dengan meraba nadi pergelangan tangan (radial) jika korban sadar. Sedangkan bagi korban yang tidak sadar,nadi yang diperiksa adalah di bagian leher (Carotis)

f. Hubungi Bantuan

Usahakan untuk segera minta bantuan rujukan. Kita bisa meminta bantuan kepada orang lain atau melakukannya sendiri. Misalnya dengan telepon.

 

  1. Pemeriksaan Fisik

Tanda yang perlu kita temukan saat melakukan pemeriksaan fisik antara lain adalah :

  • Apakah ada perubahan bentuk pada bagian tubuh si korban?
  • Apakah ada luka terbuka (terlihat jelas) pada tubuh korban?
  • Apakah korban merasakan nyeri saat bagian tubuhnya kita raba atau tekan?
  • Apakah ada bengkak pada tubuh korban?

 

Untuk pemeriksaan lebih lanjut kondisi korban,perlu dilakukan pemeriksaan yang lebih lengkap dari ujung kepala sampai ujung kaki.

  1. Kepala
  • Telinga
  • Hidung
  • Mata
  • Mulut
  1. Leher
  2. Dada
  3. Perut
  4. Punggung
  5. Panggul
  6. Anggota gerak atas dan bawah.

 

CEDERA JARINGAN LUNAK

 Benturan atau terkena benda tajam terkadang menimbulkan dampak

memar hingga keluarnya darah dari tubuh.

1.Penyebab Terjadinya Perdarahan

Perdarahan terjadi akibat rusaknya dinding pembuluh darah yang dapat disebabkan oleh benturan (trauma/penyakit). Perdarahan yang besar merupakan penyebab syok yaitu suatu kondisi dimana beberapa sel dan alat tubuh tidak cukup mendapat aliran darah yang mengandung oksigen (darah yang adekuat).Perdarahan dibagi menjadi 2 :

  • Perdarahan luar (terbuka)

Jenis perdarahan ini terjadi akibat kerusakan dinding pembuluh darah disertai dengan kerusakan kulit, yang memungkinkan darah keluar dari tubuh. Berdasarkan pembuluh darah yang mengalami gangguan perdarahan

luar dibedakan menjadi :

a. Perdarahan Arteri

Darah yang keluar dari pembuluh nadi keluar menyembur sesuai dengan denyut nadi dan berwarna merah terang karena masih kaya dengan oksigen.

b.Perdarahan Vena

Darah yang keluar dari pembuluh vena mengalir, berwarna merah gelap karena

mengandung karbon dioksida .

c.Perdarahan Kapiler

Berasal dari pembuluh kapiler , darah yang keluar merembes perdarahan ini sangat kecil sehingga hampir tidak memiliki tekanan warnanya bervariasi antara merah terang dan merah gelap .

 

Pengendalian dan Penanganan Perdarahan Luar

  • Tekan luka dengan jari atau telapak tangan (gunakan sarung tangan).
  • Tinggikan anggota tubuh yang cedera lebih tinggi dari jantung untuk mengurangi kehilangan darah.
  • Tekan pada titik tekan , yaitu arteri di atas daerah yang mengalami perdarahan.

 

Ada beberapa titik tekan yaitu :

  1. Arteri Brakialis (arteri di lengan atas)
  2. Arteri Radialis (arteri di pergelangan tangan)
  3. Arteri Femoralis (arteri di lipatan paha)
  • Perdarahan dalam (tertutup)

Kehilangan darah pada perdarahan dalam tidak terlihat karena kulitnya masih utuh dan mengingat perdarahan dalam tidak terlihat, kecurigaan adanya perdarahan dalam harus dinilai dari pemeriksaan fisik lengkap termasuk wawancara dan menganalisa mekanisme kejadian. Beberapa perdarahan dalam yang dapat dikenali antara lain :

  1. Cedera pada bagian luar tubuh yang mungkin merupakan petunjuk bagian dalam juga mengalami cedera
  2. Adanya memar disertai adanya nyeri pada tubuh, pembengkakan terutama diatas alat tubuh penting
  3. Nyeri,bengkak dan perubahan bentuk pada alat gerak
  4. Nyeri tekan atau kekakuan pada diding perut
  5. Muntah darah
  6. Buang air besar berdarah, baik darah segar maupun darah hitam
  7. Luka tusuk, khususnya pada batang tubuh
  8. Darah atau cairan mengalir dari hidung dan telinga
  9. Buang air kecil campur darah

 

Penanganan Perdarahan dalam

  1. Baringkan penderita
  2. Periksa dan pertahankan Air Breath Circulation (ABC)
  3. Periksa pernapasan dan nadi secara berkala
  4. Rawat sebagai syok (lihat syok)
  5. Jangan berikan makan atau minum
  6. Segera bawa kefasilitas kesehatan terdekat

 

CEDERA SISTEM OTOT DAN RANGKA

cedera sistem otot dan rangka hingga kita merasa sangat sakit dan sulit untuk memfungsikan alat gerak.Cedera otot rangka merupakan salah satu bentuk cedera yang paling banyak dijumpai di lapangan, mulai dari yang ringan sampai yang mengancam nyawa. Tanpa memandang berat atau ringannya kasus yang dihadapi,

penangan yang baik dapat membantu mencegah terjadinya cacat tetap.Supaya kita tidak salah dalam memberikan pertolongan, yang berikut ini wajib dibaca.

Secara umum cedera otot rangka dapat berupa :

 

  1.  Patah tulang ( Fraktur )

Patah Tulang adalah terputusnya jaringan tulang.Waspadai gejala dan tandanya patah tulang :

  • Perubahan bentuk
  • Nyeri dan kaku
  • Terdengar suara berderik pada daerah yang patah
  • Terjadinya pembengkakan
  • Adanya memar
  • Ujung tulang terlihat
  • Adanya gangguan peredaran perdarahan

 

Jenis Patah Tulang

  • Patah tulang terbuka

Bagian tulang yang patah berhubungan dengan udara luar

  • Patah tulang tertutup

Bagian tulang yang patah tidak berhubungan dengan udara luar

 

Pembidaian

Pembidaian adalah pemakaian suatu alat Bantu untuk menghindari

pergerakan, melindungi dan menstabilkan bagian tubuh yang cedera.

Pentingnya Pembidaian

Pembidaian bertujuan untuk :

– Mencegah pergerakan atau pergeseran dari ujung tulang yang patah

– Mengurangi cidera yang baru disekitar bagian tulang yang patah

– Mengistirahatkan anggota badan yang patah

– Mengurangi rasa nyeri

– Mengurangi perdarahan

– Mempercepat penyembuhan

Selain itu kita juga perlu mengenal Macam – macam Bidai. Alat yang bisa

difungsikan sebagai bidai :

  • Bidai Keras

Dibuat dari bahan yang keras dan kaku untuk mencegah pergerakan bagian

yang cedera. Bahan yang sering dipakai adalah kayu, alumunium, karton,

plastic atau bahan lain yang kuat dan ringan. Contoh : BIdai kayu, bidai

tiup, bidai vakum

  • Bidai yang dapat dibentuk

Jenis bidai ini dapat diubah menjadi berbagai bentuk dan kombinasi untuk

disesuaikan dengan bentuk cedera . Contoh : Bidai vakum, bantal,

selimut, karton, bidai kawat.

  • Bidai Traksi

Bidai bentuk jadi dan bervariasi tergantung dari pembuatannya.Hanya

digunakan oleh tenaga yang terlatih khusus, umumnya dipakai pada patah

tulang paha

  • Gendongan atau Blat dan Bebat

Pembidaian dengan menggunakan pembalut, umunya dipakai

mitela.Prinsipnya adalah memanfaatkan tubuh penderita sebagai sarana

untuk menghentikan pergerakan daerah cedera. Contoh : Gendongan

lengan.

  • Bidai Improvisasi

Bila tidak tersedia bidai jadi, maka penolong dituntut mampu

berimprovisasi membuat bidau yang cukup kuat dan ringan untuk

menopang bagian tubuh yang cedera.Contoh : majalah, Koran, karton dll.

 

Pedoman umum pembidaian

– Sampaikan rencana tindakan kepada penderita

– Pastikan bagian yuang cedera dapat dilihat dan rawat perdarahan bila ada

– Nilai gerakan sensasi-sirkulasi pada bagian daerah luka sebelum menggerakan  pembidaian

– Siapkan alat seperlunya (bidai dan, mitella)

– Upayakan tidak mengubah posisi yang cidera

– Jangan memasukan bagian tulang yang patah

– Bidai harus meliputi dua sendi dari tulang yang patah

– Ikatan jangan terlalu keras dan jangan longgar

– Ikatan harus cukup jumlahnya dimulai dari sendi yang banyak bergerak

– Selesai dilakukan pembidaian dilakukan pemeriksaan GSS kembali,

bandingkan dengan pemerikasaan GSS yang pertama

 

  1. Cerai sendi ( Dislokasi )

Cerai sendi adalah keluarnya kepala sendi dari mangkok sendi.

Penyebab :

Sendi teregang melebihi batas normal sehingga kedua ujung tulang

terpisah dan tidak pada tempatnya. Jaringan ikat sendi bisa tertarik

melebihi batas normal dan mungkin sampai robek

Gejala dan Tandanya!:

Secara umum berupa patah tulang yang terbatas pada daerah sendi.

 

  1. Terkilir otot ( Strain )

Terkilir otot adalah robeknya jaringan otot pada ekor otot (Tendon), karena

teregang melebihi batas normal.

Penyebab :

Umumnya terjadi karena pembebanan secara tiba-tiba pada otot tertentu. Hal ini sering terjadi pada cedera olahraga karena :

– Latihan peregangan tidah cukup

– Latihan peregangan tidak benar

– Teregang melampaui kemampuan

– Gerakan yang tidak benar

 

Gejala dan Tandanya :

– Nyeri yang mendadak pada daerah otot yang tertentu

– Nyeri menyebar keluar disertai kejang dan kaku otot

– Bengkak pada daerah cedera

 

4.Terkilir Sendi (Sprain)

Terkilir Sendi adalah robek atau putusnya jaringan ikat sekitar sendi karena sendi teregang melebihi batas normal

Penyebab :

Terpeleset, gerakan yang salah .

Gejala dan Tandanya:

– Bengkak

– Nyeri Gerak

– Nyeri Tekan

– Warna kulit merah kebiruan

 

PERTOLONGAN CEDERA PADA SISTEM OTOT RANGKA:

  • Lakukan penilaian dini.
  • Lakukan pemeriksaan Fisik
  • Stabilkan bagian yang patah secara manual
  • Upayakan yang diduga patah dapat dilihat
  • Atasi perdarahan dan rawat luka bila ada
  • Siapkan alat-alat seperlunya ( bidai dan mitella )
  • LAKUKAN PEMBIDAIAN
  • Kurangi rasa sakit
  • Baringkan penderita pada posisi yang nyaman.

 

1.Penanganan Terkilir :

– Letakkan penderita dalam posisi yang nyaman,istirahatkan bagian yang cedera

– Tinggikan bagian yang cedera

– Beri kompres dingin maksimum 3 menit, ulangi setiap jam bila perlu

– Balut tekan dan tetap tinggikan

– Rawatsebagai patah tulang

– Rujuk ke fasilitas kesehatan

 

  1. Pertolongan pada beberapa cedera alat gerak :
  • Cedera bahu

Dislokasi bahu adalah cedera yang paling sering terjadi di daerah bahu. Bila terjadi patah tulang

selangka, mungkin terlihat rongga pada daerah lengan atas di bawah tulang selangka. Pada cedera ini

tindakan yang paling baik adalah memasang gendongan.

  • Cedera Patah tulang lengan atas

Tulang lengan atas merupakan tulang yang cukup tebal dan kuat, bila tulang ini cedera waspadailah

cedera jaringan disekitarnya. Pertolongan :

– Letakkan lengan bawah di dada dengan telapak tangan menghadap kedalam

– Pasang bidai sampai siku

– Ikat di daerah diatas dan diaerah yang patah

– Lengan bawah digendong

– Jika siku juga patah dan tangan tidak dapat dilipat, pasang bidai sampai ke lengan bawah, dan

biarkan tangan tergantung, tidak usah digendong.

– Rujuk ke fasilitas kesehatan

  • Cedera patah tulang lengan bawah

Cedera di daerah lengan bawah dan pergelangan tangan merupakan cedera yang sering ditemukan.

Pertolongan :

– letakkan tangan di dada

– Pasang bidai dari siku sampai tangan

– Ikat pada daerah diatas dan dibawah tulang yang patah

– Lengan digendong

– Rujuk ke fasilitas kesehatan

  • Cedera tangan dan jari

Tangan yang cedera harus dibidai pada posisi fungsional. Cara paling mudah adalah dengan meletakkan benda dalam telapak tangan, lalu membalut tangan tersebut dan meletakkannya diatas bidai. Bila yang cedera adalah jari, maka ikatlah jari tersebut dengan jari disebelahnya. Bila yang cedera lebih dari satu jari maka bidailah seluruh tangan

  • Patah tulang paha

Perubahan bentuk pada patah tulang paha biasanya terlihat dengan jelas, disamping nyeri dan pembengkakkan. Pertolongan :

– Pasang dua bidai dari Ketiak sampai sedikit melewati telapak kaki Lipatan paha sampai sedikit melewati telapak kaki

– Beri bantalan kapas atau kain antara bidai dengan tungkai yang patah

– Bila perlu ikat kedua kaki diatas lutut dan pergelangan kaki – telapak kaki dengan    pembalut untuk mengurangi pergerakan.

– Rujuk ke fasilitas Kesehatan

Catatan :

– Patah tulang paha dapat menimbulkan perdarahan dalam, sehingga penderita dapat

mengalami syok

– Bila ada patah tulang terbuka, atasi perdarahan dan rawat lukanya

  • Cedera Lutut

Bila lutut berada dalam posisi tertekuk maka bidailah dalam posisi tersebut dan bila lurus maka bidailah

dalam posisi lurus. Cara membidainya sama seperti patah tulang paha .

  • Patah tulang tungkai bawah

Umumnya kedua tulang tungkai bawah mengalami cedera bersamaan. Letaknya yang sangat dekat

denganpermukaan kulit menyebabkan cedera ini sering berupa patah tulang terbuka . Pertolongan :

-Pasang 2 bidai disebelah luar dan dalam tungkai yang patah dari lipatan paha sampai sedikitmelewati telapak kaki.

-Beri bantalan kapas atau kain antara bidai atau kain.

 

PEMINDAHAN KORBAN

Menentukan prioritas pemindahan penderita. Beberapa pertanyaan yang mungkin terjadi adalah:

  1. Kapan saatnya penderita dipindahkan
  2. Apakan penilaian dan pemeriksaan penderita harus selesai sebelum pemindahan
  3. Berapa lamakah tulang belakang harus dijaga ( stabilisasi manual )

 

Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pemindahan

penderita:

  • Nilai kesulitan yang mungkin terjadi pada saat pemindahan
  • Rencanakan gerakan sebelum mengangkat dan memindahkan penderita
  • Jangan memindahkan dan mengangkat penderita jika tidak mampu
  • Gunakan otot tungkai, panggul serta otot perut. Hindari mengangkat dengan otot punggung dan membungkuk.
  • Jaga keseimbangan
  • Rapatkan tubuh penderita dengan tubuh penolong saat memindahkan dan mengangkat penderita.
  • Perbaiki posisi dan angkatlah secara bertahap

Prinsip dasar pemindahan penderita :

  • Jangan dilakukan jika tidak perlu
  • Melakukan sesuai dengan cara yang benar
  • Kondisi Fisik Penolong harus baik dan terlatih
  • Tidak ada definisi yang pasti kapan seorang penderita harus dipindahkan.
  • Sebagai pedoman dapat dikatakan bahwa bila tidak ada bahaya berikan

pertolongan dulu baru pindahkan penderita.Bila situasi dan kondisi

dilapangan relative tidak aman mungkin harus dilakukan pemindahan penderita terlebih dahulu.

  • Berdasarkan keselamatan penolong dan penderita, pemindahan penderita

digolongkan menjadi 2 bagian :

  1. Pemindahan Darurat

Pemindahan darurat dilakukan bila ada bahaya yang mengancam bagi penderita dan penolong. Contoh :

– Ancaman Kebakaran

– Ancaman Ledakan

– Ancaman Bangunan runtuh

– Ancaman mobil terguling bensin tumpah

– Adanya bahan-bahan berbahaya

– Orang sekitar yang berprilaku aneh

– Kondisi cuaca yang buruk

Contoh Cara pemindahan Darurat :

– Tarikan lengan

– Tarikan Bahu

– Tarikan Baju

– Tarikan selimut

  1. Pemindahan Biasa

Pemindahan biasa dilakukan jika keadaan tidak membahayakan penderita

maupun penolong.

 

Teknik angkat langsung dengan tiga penolong:

– ke tiga penolong berlutut pada salah satu sisi penderita , jika

memungkinkan beradalah pada sisi yang paling sedikit cedera.

– penolong pertama menyisipkan satu lengan dibawah leher dan bahu, lengan yang satu disisipkan dibawah punggung penderita.

– penolong kedua menyisipkan tangan dibawah punggung dan bokong penderita.

– penolong ketiga menyisipkan lengan dibawah bokong dan dibawah lutut penderita.

– penderita siap diangkat dengan satu perintah.

– angkat penderita keatas lutut ketiga penolong secara bersamaan.

– sisipkan tandu yang akan digunakan dan atur letaknya oleh penolong yang lain.

– letakkan kembali penderta diatas tandu dengan satu perintah yang tepat.

– jika akan berjalan tampa memakai tandu, dari langkah no 6 teruskan dengan memiringkan penderita ke dada penolong.

– berdiri secara bersamaan dengan satu perintah.

 

Teknik mengangkat tandu:

Penolong dalam keadaan berjongkok dan akan mengangkat tandu

– Tempatkan kaki pada jarak yang tepat.

– Punggung harus tetap lurus.

– Kencangkan otot punggung dan otot perut. Kepala tetap menghadap kedepan dalam posisi netral.

– Genggamlah pegangan tandu dengan baik.

– Pada saat mengangkat punggung harus tetap terkunci sebagai poros dan kekuatan konstraksi otot seluruhnya pada otot tungkai.

– Saat menurunkan tandu lakukan langkah diatas pada urutan selanjutnya.

 

Teknik angkat anggota gerak

Biasanya diperlukan dua penolong untuk melakukan teknik ini :

– Penolong pertama berada diposisi kepala penderita.

– Lakukan pengangkatan pada lengan penderita.

– Penolong yang lain berdiri diantara dua tungkai penderita, menyelipkan tangan dan mengangkat ke dua lutut penderita.

– Dengan satu aba- aba kedua penolong dapat memindahkan penderita di lokasi yang diinginkan.

 

Posisi penderita

Secara umum posisi penderita tergantung dari cedera yang dialami dan

keadaan pada saat itu. Beberapa pedoman untuk memposisikan penderita :

– Penderita dengan syok. Jika tidak ditemukan tanda-tanda cedera pada tungkai atas dan tulang belakang tingikka tungkai sekitar 20 – 30 cm.

– Penderita dengan gangguan pernapasan. Posisikan duduk atau setengah duduk.

– Penderita dengan nyeri perut. Posisikan tidur. Posisikan tidur miring dengan tungkai ditekuk.

– Penderita Muntah-muntah. Posisikan nyaman dan awasi jalan napas.

– Penderita Trauma, terutama dicurigai cedera tulang belakang (spinal)

harus segera distabilkan dan imobilisasi dengan papan spinal panjang.

Penderita tidak sadar dan tidak dicurigai ada cedera spinal atau cedera

berat lainnya, posisikan miring stabil.Posisi terbaik melakukan pemindahan tergantung pada kondisi saat itu.

Sumber : Mareri Pertolongan Pertama

Palang Merah Remaja Tingkat Wira

Edisi Pertama : Juni 2008 Palang Merah Indonesia Pusat

” mohon maaf jika  ada kesalahan  dalam penulisan atau ada yang tidak berkenan, mohon kritik dan sarannya ..terimakasih 😀 “