share on:

hiv_aidsKasus infeksi HIV dan AIDS di Indonesia setiap tahunnya mengalami peningkatan. Pada Juni 2013, jumlah pengidap infeksi HIV mencapai 108.600 orang, sedangkan pengidap AIDS sebanyak 43.667.

Jumlah yang meninggal sebanyak 8.235 orang dengan 50 persen di antaranya merupakan kasus ko-infeksi tuberculosis-HIV atau TB-HIV.

Hal itu diungkapkan dr Muchlis Achsan Udji Sofro, SpPD, dokter bagian penyakit dalam RSUP Dr Kariadi Semarang sekaligus dosen Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (UNDIP) saat ujian terbuka promosi doktor di Fakultas Kedokteran UGM, Rabu (6/8/2014).

Dia berhasil mempertahankan penelitian disertasinya mengenai kajian imunologis, klinis dan virologis terhadap respon regulatory T cell (Treg) pada pasien HIV dan TB-HIV dalam terapi Antiretroviral.

Di hadapan tim penguji, Muchlis mengatakan terapi antiretroviral (ARV) saat ini menjadi salah cara mengendalikan progresivitas penyakit AIDS. Terapi antiretroviral berfungsi mengendalikan replikasi virus, menekan viral load, mencegah memberatnya gejala AIDS, memperlambat progresivitas penyakit dan mencegah kehadiran infeksi oportusitik.

“Terapi antiretroviral berperan mengatur regulasi sistem imun antara lain melalui keseimbangan Thelper 17 dan sel Treg,” papar Muchlis.

Dari hasil penelitiannya terhadap 52 pasien HIV dan 40 pasien TB-HIV yang menggunakan terapi ARV di RSUP Dr Kariadi Semarang ditemukan 10 pasien yang akhirnya meninggal dunia selama satu tahun menggunakan terapi tersebut. Pasein yang meninggal ini terdiri 5 pasien HIV dan 5 pasien TB-HIV.

Penelitian Muchlis selama satu tahun itu para pasien yang menggunakan terapi ARV, ditemukan terdapat perbedaan Treg antara pasien HIV dan TB-HIV pada awal terapi antiretroviral. Seperti diketahui, keberadaan sel Treg berperan dalam mengontrol aktivasi imun dan progresivitas penyakit.

“Dari penelitian saya, didapatkan peningkatan jumlah Treg pasien HIV dan penurunan jumlah Treg pada TB-HIV setelah terapi antiretroviral,” kata staf pengajar Fakultas Kedokteran Undip itu.

Menurut dia jumlah sel Treg ini dapat dipertimbangkan sebagai faktor untuk melihat progresivitas infeksi HIV dan TB-HIV. Tidak hanya itu, Treg dan viral load dapat digunakan juga untuk mengevaluasi keberhasilan terapi pasien HIV-AIDS.(detik.com)

share on: